FileServe

Facebook Fans

Tampilkan postingan dengan label e-learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label e-learning. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2010

Pengembangan Media Pembelajaran Kosakata Berbasis Audio-Visual Untuk Peningkatan Kompetensi Berbahasa Indonesia Anak Usia Dini

Oleh : Masnur Muslich dan Suyono
image Abstrak: Penelitian ini bertujuan memperoleh deskripsi tentang (1) kosakata dasar (basic vocabulary) bahasa Indonesia yang dipakai oleh anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari, (2) kondisi pembelajaran kosakata yang diterapkan oleh guru TK, (3) media pembelajaran kosakata yang selama ini digunakan oleh guru TK dalam rangka pencapaian kompetensi berkomunikasi berbahasa Indonesia bagi siswanya, dan (4) penyusunan model media pembelajaran kosakata berbasis audio-visual sebagai upaya peningkatan kompetensi berbahasa indonesia anak usia dini. Dengan menggunakan desain penelitian kualitatif dan desain pengembangan dengan ujicoba di sepuluh TK sasaran, dihasilkan deskripsi kosakata dasar yang dipakai oleh anak usia dini, kondisi pembelajaran kosakata dasar, media pembelajaran kosakata yang digunakan di TK, dan prototipe media pembelajaran kosakata berbasis audio-visual dalam rangka peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia anak usia dini. Prototipe media pembelajaran kosakata berbasis audio-visual hasil penelitian ini selain dapat dimanfaatkan setiap guru pada lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) juga dapat dipakai sebagai dasar pengembangan media pembelajaran lebih lanjut.
Kata kunci: media pembelajaran kosa kata, kompetensi berbahasa anak usia dini.
Ada tiga hal pokok yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian pegembangan ini. Pertama, penelitian Muslich tentang ”Kondisi Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa TK Kota Malang” (tahun 2000) diperoleh temuan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia yang selama ini diterapkan oleh guru-guru TK Kota Malang (alih-alih disebut Pendidikan Anak Usia dini atau PAUD) kurang manarik sehingga tidak bisa membangkitkan motivasi anak untuk belajar secara aktif dan kreatif. Di samping itu, strategi pembelajaran kurang ada variasi sehingga mudah menimbulkan rasa bosan pada diri anak. Akibat lanjutnya adalah anak kurang tertarik pada pembelajaran bahasa Indonesia. Kedua, penelitian Muslich tentang ”Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa TK Kota Malang” (tahun 2002) diperoleh temuan bahwa media pembelajaran yang selama ini digunakan dalam pembelajaan bahasa Indonesia pada siswa TK/PAUD Kota Malang kurang memperhatian ciri-ciri PAKEM. Hal ini dibuktikan dengan pemilihan media yang kurang sesuai dengan perkembangan psikis dan kesenangan anak. Di samping itu, penggunaan media pembelajaran hanya sekedar dipraktikkan di depan kelas tanpa menyesuaikannya dengan kompetensi atau tujuan pembelajaran yang diamanatkan oleh Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini.
Ketiga, ketika peneliti bertugas selama satu semester (Juli – Desember 2006) di Thailand Selatan, sempat mengamati pelaksanaan pembelajaran bahasa Thai pada anak usia dini yang kondisinya berkebalikan dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia pada usia yang sama di Indonesia. Di Kindergarten atau TK/PAUD di bawah naungan Prince of Songkhla University, Pattani Campus ini, pembelajaran bahasa berlangsung secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Lewat media audio-visual yang ditayangkan di kelas, anak-anak bisa dengan cepat memahami dan mempraktikkan kosakata yang menjadi fokus pembelajaran dalam berkomunikasi. Kondisi pembelajaran bahasa lewat media audio-visual di Thailand Selatan ini apabila dikembangkan di Indonesia tentu akan dapat meningkatkan kompetensi berbahasa anak usia dini.
Pada sisi lain, kompetensi dasar yang ingin dicapai dalam pembelajaran bahasa di setiap satuan pendidikan adalah agar para siswa terampil berbahasa, baik reseptif lisan (menyimak), produktif lisan (berbicara), reseptif tulis (membaca), maupun produktif tulis (menulis). Dalam praktiknya, keterampilan berbahasa memerlukan penguasaan kosakata yang memadai sehingga gagasan yang ingin disampaikan dapat tersalurkan dengan baik. Dengan demikian tidak dapat dipungkiri bahwa penguasaan kosakata yang memadai akan dapat menentukan kualitas berbahasa seseorang. Untuk mencapai tujuan itu, pembelajaran kosakata harus dilakukan sejak usia dini, yang secara formal dimulai sejak di anak berada di TK/PAUD (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993 dan Departemen Pendidikan Nasional, 2003). Pada tahap itu, pembelajaran kosakata harus dilakukan secara efektif, yaitu pembelajaran kosakata secara kontekstual, pembelajaran yang sesuai dengan tujuan komunikasi, pembelajaran yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari, dan dilaksanakan secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (National Institute Leteracy, 2006).
TEORI PEMBELAJARAN KOSAKATA
Pembelajaran kosakata yang bertujuan untuk meningkatakan kompetensi berbahasa siswa dapat dilakukan sebagai berbagai metode, di antaranya melalui belajar melalui cerita, belajar melalui bermain, belajar melalui bernyanyi, dan belajar melalui bercakap-cakap. Pertama, belajar melalui cerita. Cerita mendorong anak untuk belajar mengidentifikasi bunyi-bunyi bahasa, mengidentifikasi kata-kata, dan menarik makna dari konteks. Dialog dalam cerita mendorong anak belajar pragmatika berbahasa tentang bagaimana memulai pembicaraan, memilih sapaan, salam, dan pola pergiliran bicara (Musfiroh, 2003).
Para ahli seperti Dyson, Morrow, Owocki dan Schic-kendaz mengatakan bahwa kegiatan berbicara dan mendengarkan dalam bercerita (sebagaimana bermain dan menggambar) merupakan sarana dan media pengembangan dan penggunaan pengetahuan tentang bahasa tulis dan bahasa lisan (Bredekamp, 1992)
Cerita yang dikemas dalam wujud buku bergambar juga dapat membantu memperbaiki kesalahan identifikasi lambang tertulis (huruf). Pada saat mencocokkan cerita dengan lambang atau tulisan, anak terbantu oleh bentuk kata (baca: lafal kata) yang telah dikuasainya. Huruf e pada tempe dan bebek, misalnya, masing dibaca [bєbє?] dan [tempe]. Setelah menyi-mak pembacaan cerita bergambar oleh guru, anak akan tergelitik untuk mencocokkan lambang tulis dengan pelafalan (Bandingkan dengan Sudono, 2000 dan Hainstock, 2002).
Membicarakan isi cerita dengan anak, menurut kajian para ahli, membentuk scaffolding yang membuat anak memberikan perhatian dan memberikan konteks yang berdaya bagi anak untuk belajar bahasa dan menumbuhkan literasi mereka (Brewer, 1995). Stimulasi perkembangan struktur kalimat melalui cerita tidak akan mencapai efek maksimal jika guru tidak melatih anak untuk bercerita ulang (retelling). Melalui retelling dapat diketahui apakah anak dapat menangkap isi cerita dan dapat mengungkapkan kembali dengan kata dan struktur yang mendekati model (baca: guru).
Dialog dalam cerita dapat menjadi model bagi anak untuk menghasilkan tuturan yang gramatikal. Fitur (ciri) struktur kalimat bahasa Indonesia dapat diidentifikasi anak melalui contoh dialog cerita. Selain itu, anak juga memperoleh keluasan kata sehingga kalimat yang dihasilkan lebih baik (Bandingkan dengan Dawud, 1997 dan Winihasih, 1997).
Kedua, belajar melalui bermain. Bermain, apa pun bentuknya, mendorong minat anak untuk bereksplorasi lebih jauh. Lebih-lebih kegiatan bermain peran. Hasil studi para ahli tentang dramatisasi cerita menunjukkan cerita didramatisasikan anak merupakan media utama untuk mengeksprsikan perkembangan kapasitas keberaksaraan anak atau literacy capacities (Bredekamp, 1992).
Permainan yang disajikan dalam penelitian ini meliputi permainan kartu bergambar, permainan teka-teki, melanjutkan cerita, dan menata kata. Permainan-permainan tersebut dimodifikasi dari permainan-permainan untuk mengembangkan kecerdasan linguistik yang diciptakan Musfiroh (2003). Permainan tersebut disajikan dalam bentuk dan perintah bahasa.
Ketiga, belajar melalui bernyanyi. Menyanyi merupakan salah satu metode “pengenalan” kosakata pada anak yang sangat efektif. Menyanyi menjadikan kata-kata lebih bermakna bahkan hingga anak-anak itu beranjak remaja. Oleh karena itu, guru perlu mengenal berbagai lagu. Jika perlu, guru dapat mengarang sendiri nyanyian sebagai pengembang kompetensi kosakata termasuk pelafalan dari kata-kata tersebut (Cox, 1999).
Kehadiran ritmik, pengulangan, dan pola rima di dalam nyanyian merupakan bentuk “pengajaran” bahasa tertua yang berisi budaya untuk konsumsi anak. “Pengajaran” melalui lagu mudah dicerna dan diingat, terutama karena “pelajaran” itu dapat dilakukan berulang-ulang baik melalui radio, televisi, maupun pengulangan sendiri oleh anak dan orang-orang di sekitarnya (Steinberg, 2001).
Pembelajaran melalui nyanyian sangat menyenangkan dan membuat anak senang mengulang-ulangnya. Anak-anak, secara bawah sadar, telah menyerap informasi yang terkandung dalam nyanyian sehingga memudahkan mereka mengingat kata-kata tertentu, seperti, nyanyian yang berisi angka (satu, dua, tiga, dan sebagainya).
Keempat, belajar melalui bercakap-cakap. Bercakap-cakap merupakan metode pembelajaran bahasa yang sangat efektif untuk mengembangkan kecakapan berbicara (termasuk kecakapan pragmatik) sekaligus dapat dipergunakan untuk mengukur seberapa tingkat penguasaan anak terhadap bahasa target. Sayangnya, apabila tidak dilakukan secara hati-hati, metode ini akan membuat anak diam seribu bahasa.
Selain itu, metode bercakap-cakap dapat dimanfaatkan anak sebagai model berbicara. Misalnya, penelitian Musfiroh (2003) mengenai tuturan bilingual anak TK di DIY menunjukkan bahwa anak-anak mengalami kesulitan membedakan fitur bahasa Jawa dan Indonesia karena guru mereka memberi pajanan bahasa yang tidak konsisten.
Sebenarnya, metode bercakap-cakap sangat efektif untuk membiasakan anak bersikap sopan, seperti dalam mengucapkan salam, mengajukan permohonan, meminta tolong, dan mengucapkan terima kasih. Oleh karena itu, pembiasaan berbicara dalam bahasa Indonesia sangat penting untuk diterapkan. Hanya saja, kritik dan pembetulan tidak disarankan untuk diberikan (Cox, 1999).
Berdasarkan temuan penelitian Muslich yang ditunjang oleh hasil pengamatan pembelajaran bahasa di Kingergarten Thailand Selatan tersebut dan pentingnya penguasaan kosakata dalam keterampilan berbahasa, penelitian ini memfokuskan pada pengembangan media pembelajaran kosakata berbasis audio-visual yang secara potensial diharapkan dapat meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia anak usia dini. Adapun masalah yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah: (a) Apa saja jenis kosakata dasar (basic vocabulary) bahasa Indonesia yang dipakai oleh anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari? (b) Bagaimana kondisi pembelajaran kosakata yang diterapkan oleh guru PAUD? (c) Bagaimana kesiapan daya dukung media atau alat pembelajaran kosakata apa yang selama ini digunakan oleh guru PAUD dalam rangka pencapaian kompetensi berkomunikasi berbahasa Indonesia bagi anak usia dini? (d) Bagaimana prototipe model media pembelajaran kosakata berbasis audio-visual sebagai upaya peningkatan kompetensi berbahasa indonesia anak usia dini?
METODE PENELITIAN
Untuk mencapai tujuan (1), (2), dan (3), digunakan desain penelitian kualitatif, dengan pertimbangan bahwa (a) penelitian ini memiliki data langsung yang bersifat alami, yaitu kata-kata yang selama ini dipakai oleh anak usia dini dalam kegiatan sehari-hari, pembelajaran kosakata yang selama ini diterapkan guru, dan media pembelajaran yang dipakai/digunakan guru, (b) instrumen pokok penelitian ini adalah peneliti sendiri, (c) data penelitian ini bersifat deskriptif, (d) lebih mengutamakan proses daripada hasil, (e) analisis data dilakukan secara induktif, dan (f) makna (meaning) merupakan perhatian utama. Penelitian yang memiliki ciri semacam itu oleh Bogdan dan Biklen (1982) dinamakan penelitian kualitatif.
Sasaran representatif subjek penelitian ditentukan berdasar stratifikasi area. Karena Kota Malang terdiri atas lima kecamatan, yaitu kecamatan Klojen, Lowokwaru, Kedungkandang, Blimbing, dan Sukun, masing-masingnya diambil dua sekolah secara purposif. Dengan demikian, ada sepuluh TK yang siswa dan gurunya menjadi sampel penelitian ini.
Data penelitan ini ada tiga jenis, yaitu berupa (1) kata-kata dasar (basic vocabulary) bahasa Indonesia yang biasa siswa dalam komunikasi sehari-hari, (2) kinerja guru dalam pembelajaran kosakata, dan (3) media pembelajaran yang dipakai/digunakan guru dalam pembelajaran kosakata, Data dikumpulkan dengan cara (1) pengamatan langsung ke subjek penelitian (baik siswa maupun guru TK), (2) penyebarkan angket ke setiap subjek penelitian, dan (3) pendokumentasian. Cara pertama dilakukan dalam rangka ingin memperoleh deskripsi tentang kosakata dasar (basic vocabulary) yang dipakai oleh anak usia dini dalam berkomunikasi sehari-hari dan kinerja guru TK dalam pembelajaran kosaka. Cara kedua dilakukan dalam rangka ingin memperoleh deskripsi tentang pendapat dan wawasam guru TK terkait dengan pembelajaran kosakata, khusunya tentang pemakaian media pembelajarannya. Cara ketiga dilakukan dalam rangka ingin memperoleh deskripsi tentang persiapan guru tentang pembelajaran kosakata dan media pembelajaran yang digunakan/ dikembangkannya. Data yang diperoleh dari ketiga cara tersebut disajikan dalam tabel pengumpul data yang sudah disiapkan.
Untuk mencapai tujuan (4), yaitu memperoleh prototipe model media pembelajaran kosakata berbasis audio-visual sebagai upaya peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia anak usia dini digunakan desain penelitian pengembangan dengan tahapan dan prosedur kerja sebagai berikut. Pertama, pengkajian teori terkait dengan (a) pembelajaran bahasa, (b) pembelajaran dan pemerolehan kosakata, (c) perkembangan anak, (d) model-model permainan anak, dan (e) pembuatan media pembelajaran. Kedua, telaah kurikulum pendidikan anak usia dini (PAUD) dan pemetaan kosakata dasar bahasa Indonesia yang biasa dipakai oleh anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari. Hasil telaah kedua kegiatan ini dipakai sebagai dasar untuk menentukan kosakata apa perlu dikembangkan dalam pengembangan model media pembelajaran. Ketiga, pengembangan prototipe model media pembelajaran. Ada tiga kegiatan yang dilakukan pada tahap ini, yaitu pembuatan CD (baik pembuatan animasi, perekaman adegan, maupun pembuatan gambar), penyusunan buku siswa, dan penyusunan panduan guru. Apabila prosedur kerja tersebut divisualisasikan dalam bentuk bagan, terlihat pada bagan alir berikut.
Bagan Alir Prosedur Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Kosakata Dasar (Basic Vocabulary) Bahasa Indonesia yang Dipakai oleh Anak Usia Dini
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di sekolah-sekolah TK sasaran diketahui bahwa kosakata dasar bahasa Indonesia yang dipakai oleh anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari dapat diklasifikasikan sebagaimana tabel berikut.
Tabel 1: Klasifikasi Kosakata Dasar Bahasa Indonesia yang Dipakai oleh Anak Usia Dini dalam Kehidupan Sehari-hari
No. Klasifikasi Kata yang Ditemukan
1. Kekerabatan ibu, ayah, anak, adik, saudara, kakak, kakek, nenek, paman (om), bibi (tante), papa, mama
2. Kata ganti aku (saya), kamu, dia, mbak, mas, ini, itu, (di) sini, (di) sana, (di) situ, (di) depan, (di) belakang, di (samping), (di) atas, (di) bawah, (di) luar, (di) dalam, di (kanan).
3. Kata Kerja berdiri, duduk, makan, minum, tidur, bangun, berlari, melihat, mendengar, mencium, membaca, menulis, menyanyi, bergurau, bercerita, belajar, bekerja, memotong, pipis (buang air kecil), mendorong, berjalan, menghadap, bermain, berperang, menembak, shalat, ngomong.
4. Kata Keadaan lapar, kenyang, haus, senang, susah, sakit, sehat, bersih, kotor, jauh, dekat, besar, kecil, panjang, pendek, tinggi, rendah, jauh, dekat, siang, malam, gelap, terang, kering.
5. Kata Benda air, api, bulan, bintang, matahari, hewan, tumbuhan, rumah, sekolah, kursi, meja, bangku, gelas, dot (botol susu), mobil-mobilan, buku, penghapus, tas, pensil, rautan pensil, meja, majalah, papan tulis, telur, susu, mie, sayur, susu, gelas.
6. Rasa pahit, manis, asin, pedas,
7. Anggota Tubuh kepala, tangan, kaki, mata, hidung, telinga, mulut, rambut, kumis.
8. Pakaian baju, celana, topi, kerudung, sarung, sandal, sepatu, kaos kaki, dasi, kalung, gelang, cincin, mukena, sajadah
9. Bagian Rumah tembok, pintu, jendela, pagar, kamar, dapur,
10. Warna biru, hijau, kuning, jingga (orange), merah, pink (merah muda), ungu, hitam, cokelat, putih.
11. Bentuk kotak, bulat, garis, segitiga
12. Waktu Siang, pagi, sore, malam, kemarin, besok
Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa ada beragam jenis klasifikasi kosakata dasar yang dipakai anak PAUD. Klasifikasi-klasifikasi tersebut antara lain kata kekerabatan, kata ganti, kata kerja, kata keadaan, kata benda, rasa, anggota tubuh, pakaian, bagian rumah, warna, bentuk, dan waktu. Hal ini mengindikaskan bahwa materi pembelajaan kosakata harus bersumber pada kata-kata seputar klasifikasi tersebut. Dengan cara demikian, selain sesuai dengan perkembangan anak, juga akan sesuai dengan kebutuhan anak.
b. Kondisi Pembelajaran Kosakata yang Diterapkan oleh Guru PAUD
Kondisi pembelajaran kosakata yang diterapkan oleh guru PAUD ini dibahas dalam dua hal, yaitu (1) kinerja guru PAUD dalam pembelajaran kosakata dan (2) wawasan dan pendapat guru PAUD dalam pembelajaran kosakata. Penjabaran kedua hal tersebut adalah sebagai berikut.
1) Kinerja Guru PAUD dalam Pembelajaran Kosakata
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di sekolah-sekolah TK sasaran diketahui bahwa kondisi pembelajaran kosakata yang diterapkan oleh guru TK dapat dijelaskan sebagaimana berikut. Kondisi kinerja guru PAUD dalam pembelajaran kosakata dapat diketahui dari dua tahap, yaitu persiapan dan pelaksanaan pembelajaran di kelas. Persiapan pembelajaran meliputi kinerja guru membuat RPP, kesiapan alat peraga pembelajaran, dan ketersediaan media pembelejaran. Sedangkan pelaksanaan pembelajaran di kelas dapat meliputi apersepsi, keterlibatan siswa, metode/teknik pembelajaran, penerapan alat/media pembelajaran, ketercapaian pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Kedua tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, tahap persiapan pembelajaran. Persiapan yang dilakukan guru PAUD dalam pembelajaran kosakata meliputi membuat RPP, mempersiapkan alat peraga pembelajaran, dan menyediakan media pembelajaran.
Membuat RPP. RPP dikenal dengan SKH (Satuan Kegiatan Harian). SKH berisi serangkaian kegiatan pembelajaran dari awal hingga akhir yang disertai dengan identitas kompetensi yang akan dicapai, tahapan pembelajaran, metode, media pembelajaran, dan penilaian. SKH tersusun secara teratur dan terencana. SKH disusun dengan tujuan agar pembelajaran dapat terarah dan berhasil sesuai dengan tujuan. SKH disusun setiap kali pertemuan.
Kesiapan Alat Peraga Pembelajaran. Alat peraga pembelajaran dipersiapkan untuk mendukung pembelajaran. Alat peraga pembelajaran yang dipersiapkan disesuaikan dengan kompetensi/materi yang akan diajarkan. Misalnya, untuk tema kesehatan, dipilih alat peraga berupa gambar menu makanan empat sehat dan lima sempurna.
Ketersediaan Media Pembelajaran. Lebih lanjut, juga terdapat kesesuaian antara media pembelajaran dengan kompetensi/materi yang diajarkan. Media pembelajaran yang disediakan disesuaikan dengan kompetensi/materi yang diajarkan.
Kedua, tahap pelaksanaan pembelajaran. Pelaksanaan meliputi apersepsi, keterlibatan siswa, metode/teknik pembelajaran, penerapan alat/media pembelajaran, ketercapaian pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.
Apersepsi. Secara umum, kegiatan apersepsi meliputi salam, berdoa, bernyanyi, menanyakan kehadiran siswa, dan tanya jawab dengan tujuan untuk mengaitkan kompetensi yang akan dicapai dengan kehidupan sehari-hari siswa. Apersepsi yang berupa salam secara tidak langsung telah mengajarkan kosakata dalam klasifikasi waktu. Misalnya, dengan salam “Selamat Pagi” anak telah dikenalkan waktu pagi. Bernyanyi bertujuan untuk membangkitkan semangat siswa. Hal ini didasari oleh suatu alasan bahwa bernyanyi merupakan salah satu hal yang dapat membuat anak senang dan tertarik dengan belajar. Selain itu, dengan bernyanyi anak secara tidak langsung telah mengenal kosakata yang tersusun dalam nyanyian tersebut. Menanyakan kehadiran siswa bertujuan untuk menumbuhkan rasa toleransi antarsiswa. Lebih lanjut, apersepsi juga dilakukan melalui tanya jawab. Tujuan tanya jawab ini adalah untuk mengaitkan antara kompetensi yang akan dicapai dengan kehidupan sehari-hari siswa. Selain itu, bertujuan untuk menggali pengathuan anak.
Keterlibatan Siswa. Pembelajaran membuat siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Wujud keaktifan tersebut meliputi siswa memiliki rasa keingintahuan yang tinggi sehingga muncul beragam pertanyaan dari siswa, menirukan model yang dicontohkan guru, dan senang mengerjakan perintah guru. Untuk memicu dan menghilangkan kejenuhan, guru menyelinginya dengan nyanyian yang diiringi dengan tepukan.
Metode/Teknik Pembelajaran. Metode/teknik pembelajaran yang digunakan guru meliputi ceramah, tanya jawab, demonstrasi, pemodelan, belajar kelompok, penugasan, dan anekdot. Pada dasarnya, metode ceramah tetap dilakukan guru. Hal ini disebabkan anak PAUD merupakan usia yang butuh perhatian. Ketelatenan guru PAUD merupakan hal penting yang bertujuan untuk mengarahkan dan menertibkan siswa. Seringkali, anak usia PAUD masih belum bisa terfokus pada pembelajaran. Anak tersebut masih memerlukan pengaturan dan pengarahan. Untuk itu, metode ceramah senantiasa ada dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran, guru juga sering memicu komunikasi siswa dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa. Hal ini bertujuan untuk menggali pengetahuan siswa berkaitan dengan kompetensi yang akan dicapai. Model dalam pembelajaran sangat penting. Dengan adanya model, diharapkan siswa dapat melakukan apa yang diperintahkan guru. Selain itu, dengan ditunjukkan adanya model secara langsung diharapkan kompetensi siswa tergali karena anak PAUD belum dapat berpikir secara abstrak. Ia akan mengetahui benar jika hal tersebut dialaminya. Guru juga mendemonstrasikan suatu media pembelajaran. Misalnya, guru menunjukkan adanya gambar rumah beserta bagian-bagiannya. Hal ini diharapkan akan ada respons bagi anak dengan menyebutkan bagian-bagian tersebut.
Penerapan Alat/Media Pembelajaran. Alat/media pembelajaran diterapkan dengan tujuan untuk mendukung proses pembelajaran. Secara umum, penerapan media pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran.
Ketercapaian Pembelajaran. Teknik/metode dan alat peraga ditujukan untuk mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran. Secara umum, pembelajaran mencapai tujuan yang diharapkan. ...
Evaluasi Pembelajaran. Di akhir pembelajaran, guru mengadakan evaluasi. Wujud evaluasi itu antara lain menanyakan kembali kegiatan yang telah dilakukan, memberikan pesan-pesan yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, memberikan tugas rumah kepada siswa, dan menutup pembelajaran dengan bernyanyi, doa, dan salam.
2) Wawasan dan Pendapat Guru PAUD dalam Pembelajaran Kosakata
Data tentang wawasan dan pendapat guru PAUD dalam pembelajaran kosakata diperoleh melalui teknik wawancara dengan memberikan instrumen pemandu berupa angket. Angket tersebut berisi sejumlah pertanyaan yang dirancang khusus untuk mengetahui wawasan dan pendapat guru PAUD dalam pembelajaran kosakata. Peneliti memberikan pengarahan dalam pengisian angket yang dilakukan oleh guru. Hal ini bertujuan agar jawaban-jawaban yang diberikan guru sesuai dengan kepentingan penelitian.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di sekolah-sekolah TK sasaran diketahui bahwa wawasan dan pendapat guru PAUD dalam pembelajaran kosakata yang diterapkan oleh guru TK dapat dijelaskan sebagai berikut. Semua guru PAUD di TK sasaran berpendapat bahwa pembelajaran kosakata sangat penting. Hal ini disebabkan karena perbendaharaan kata bagi anak diperlukan untuk berkomunikasi sehari-hari dengan teman dan keluarganya serta untuk menyatakan/mengungkapkan perasaan dan gagasannya kepada orang lain. Semakin banyak anak mengenal kosakata, maka memudahkan anak untuk berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan dan gagasannya kepada orang lain. Sebagaimana telah diketahui bahwa bahasa merupakan sarana komunikasi. Kosakata merupakan konsep awal berbahasa yang sederhana. Kosakata adalah modal dasar berbahasa.
Guru PAUD mengajarkan kosakata pada anak. Guru-guru mengajarkan kosakata bukan semata-mata karena tuntutan kurikulum. Tetapi, pengajarannya lebih didorong oleh alasan bahwa kosakata merupakan konsep awal pembelajaran berbahasa yang sederhana. Pengajaran kosakata disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Selain itu, alasan yang mendorong pembelajaran kosakata bahasa Indonesia pada PAUD adalah untuk mengenalkan kosakata bahasa Indonesia yang benar kepada anak karena mengingat bahwa bahasa ibu bagi sebagian besar siswa adalah bahasa Jawa. Kesadaran pembelajaran kosakata pada anak juga didasari tujuan untuk menambah wawasan dan perbendaharaan kosakata pada anak.
Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, sebelum mengajarkan kosakata, guru PAUD melalukan persiapan terlebih dahulu. Persiapan-persiapan tersebut antara lain menyusun SKH (Satuan Kegiatan Harian), membuat media peraga tentang kosakata yang diajarkan, melakukan tanya jawab dengan siswa berkaitan dengan kosakata yang akan diajarkan. Adapun alat peraga yang dipersiapkan disesuaikan dengan dengan SKH. Misalnya, pada tema kesehatan, maka dipersiapkan media gambar berupa gambar empat sehat lima sempurna. Atau menyediakan alat peraga berupa mobil-mobilan untuk mengajarkan alat-alat transportasi. Selain alat peraga yang berupa gambar, juga dipersiapkan tulisan yang berfungsi sebagai media tanya jawab dengan anak.
Secara umum, jenis kosakata yang diajarkan guru PAUD disesuaikan dengan kosakata yang berhubungan dengan anak. Misalnya, urutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan anak merupakan urutan kosakata yang diajarkan. Dalam hal ini, urutan kegiatan pembelajaran menentukan jenis kosakata yang diajarkan. Adapun urutan kegiatan tersebut antara lain salam—do’a—bernyanyi—bercerita—bekerja—bermain—makan—minum—pulang. Urutan kegiatan tersebut secara tidak langsung telah membelajarkan kosakata bagi siswa. Contoh yang mudah adalah dengan bekerja atau memberi tugas kepada siswa. Terlebih dahulu, guru mengenalkan sebuah gambar rumah beserta bagian-bagiannya dan sekeliling rumah. Anak disuruh untuk menyebutkan bagian-bagian rumah tersebut dan unsur warna yang membangun bagian-bagian rumah tersebut. Lebih lanjut, anak diberi gambar rumah (tanpa diberi warna) seperti yang dimodelkan guru. Anak mewarnai gambar tersebut. Dengan mewarnai, anak akan belajar kosakata. Misalnya, adanya gambar pohon, anak akan memberikan warna hijau sesuai dengan yang dilihatnya dalam kehidpan sehari-hari. Hal ini tentnunya menimbulkan tanya jawab antara siswa dan siswa, dan siswa dan guru. Adanya tanya jawab antara siswa dengan guru yang dilakukan sebelumnya telah membangun adanya pengetahuan anak tentang rumah dan bagian-bagian yang sesuai dengan gambar tersebut. Pembelajaran kosakata juga dimulai dari pembelajaran kosakata yang sederhana. Kosakata yang berhubungan dengan diri dengan diri sendiri, misalnya aku-saya-kamu, dan seterusnya juga merupakan cara urutan yang dipilih guru. Untuk memudahkan lagi, guru PAUD juga memilih kosakata yang berupa kata benda yang ada di sekitar anak. Alasannya adalah agar anak mengenali benda-benda yang ada di sekitarnya dengan mudah.
Guru PAUD menerapkan teknik/cara tertentu dalam pembelajaran kosakata agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Agar tidak membosankan, guru PAUD menerapkan beragam teknik pembelajaran. Teknik-teknik tersebut antara lain tanya jawab, bercakap-cakap, bercerita, pemberian tugas, eksperimen, praktik langsung, demonstrasi, dramatisasi, dan karya wisata. Misalnya, pada pembelajaran bercerita. Jika ada kosakata yang belum dimengerti anak, maka guru menjelaskan arti kosakata tersebut. Guru menekankan pembelajaran kosakata, guru mengucapkan kosakata yang jelas dengan cara memperjelas artikulasi bunyi tersebut.
Tentunya, dengan beragam teknik tersebut, ada beberapa teknik/cara yang berhasil dalam pembelajaran kosakata pada anak. Misalnya, teknik pemberian tugas. Pemberian tugas antara lain dengan cara anak diberi tugas untuk mencontoh huruf dengan cara menghubungkan titik. Dalam hal ini, guru menggunakan sumber belajar berupa buku kerja siswa. Di dalam buku tersebut, terdapat titik-titik yang membentuk suatu huruf tertentu dan anak disuruh untuk menghubungkan titik-titik tersebut. Misalnya, diberikan titik-titik yang membentuk huruf “A”. Pada lembar tersebut, terdapat kosakata tertentu yang dibangun oleh huruf “A”, misalnya “apel” beserta gambar buah tersebut. Sedangkan titik-titik yang membangun huruf “A” tersebut berjumlah banyak sehingga akan ada huruf “A” yang banyak pula. Hal ini bertujuan agar anak terampil menulis huruf “A”. Selain itu, adanya media yang berupa gambar (dalam hal ini adalah gambar apel), akan memudahkan anak untuk belajar mengenal kosakata yang dibangun oleh huruf awal “A”. Hal ini diharapkan anak agar dapat mengenali kosakata lain yang dibangun oleh huruf awal “A”, misalnya anak, adik, alpukat, dan seterusnya. Teknik percakapan (tanya jawab) dan pendemonstrasian berupa pengenalan geometri/bentuk benda di kelas juga merupakan teknik yang berhasil dalam pembelajaran kosakata. Tanya jawab dapat merespon anak berbicara dengan baik. Selain itu, dikenal adanya teknik bercerita yang juga dianggap berhasil dalam pembelajaran kosakata. Hal ini dapat diketahui dari jika ketika anak ditanya tentang cerita yang telah diperdengarkan guru, anak dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan cepat. Dari beberapa teknik tersebut, tentunya tidak terlepas dari alat peraga pembelajaran. Dengan adanya alat peraga pembelajaran, anak dapat mengenali kosakata-kosakata baru dengan lebih cepat dan baik.
Secara keseluruhan, guru PAUD menggunakan alat peraga/media dalam pembelajaran kosakata. Adapun jenis media tersebut antara lain berbagai macam media gambar, benda tiruan, bentuk-bentuk bangun (geometri), boneka tangan, kartu kata, komputer, dan kartu huruf. Tetapi, secara umum, jenis media yang selalu dipersiapkan guru adalah media gambar.
Lebih lanjut, guru PAUD memberikan tanggapan dan harapan terkait dengan pembelajaran kosakata pada anak usia dini. Tanggapan tersebut antara lain dengan pembelajaran kosakata yang baik, maka pembelajaran dapat diterima dengan baik oleh anak. Pembelajaran kosakata pada PAUD memudahkan anak berkomunikasi dalam lingkungan sehari-hari. Kosakata hendaknya diajarkan sejak dini pada anak untuk memudahkan anak berkomunikasi di lingkungannya. Pembelajaran kosakata hendaknya diajarkan dengan baik dan benar karena pembelajaran di TK merupakan pondasi pada pembelajaran-pembelajaran di jenjang selanjutnya. Sebaiknya, pembelajaran kosakata dilakukan dengan pengucapan yang benar dan perlu adanya pengulangan terhadap kosakata-kosakata yang diajarkan tersebut. Pembelajaran kosakata sangat penting. Hal ini disebabkan dengan pembelajaran kosakata diharapkan anak semakin banyak mengenal kosakata yang sangat mendukung komunikasi. Kesimpulan umum tanggapan dan harapan tersebut adalah bahwa pembelajaran kosakata sangat penting dilakukan.
c. Daya Dukung Media dan Alat Pembelajaran Kosakata yang selama ini Digunakan oleh Guru TK
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di sekolah-sekolah TK sasaran, diketahui bahwa daya dukung media dan alat pembelajaran kosakata yang selama ini digunakan oleh guru TK dapat disajikan sebagaimana berikut.
Tabel 2: Daya Dukung Media dan Alat Pembelajaran Kosakata
No. Jenis Daya Dukung Penjelasan
1. Berbagai jenis gambar diam
Berbagai gambar diam tersebut misalnya:
- Alat transportasi
- Pohon dan bagian-bagiannya
- Berbagai macam pekerjaan
- Pengenalan nama-nama bulan dalam tahun
- Empat sehat lima sempurna
- Guru dan siswa
- Proses pencucian pakaian hingga penyimpanan di almari
2. Komputer Pembelajaran interaktif
3. Boneka tangan Sarana untuk bercerita
4. Puzzle
5. Benda-benda geometri Jenis bentuk-bentuk benda, misalnya kotak, bulat, limas, kerucut, dan sebagainya.
6. Majalah Majalah berisi
7. Tiruan benda-benda konkret - Sekelompok alat transportasi (darat, udara, dan laut)
- Seperangkat alat peralatan dapur
- Berbagai jenis hewan
- Sistem penyusun alam sekitar
- Anggota keluarga
8. Kartu kata Pengenalan kata
9. Kartu huruf
10. Buku kerja siswa Buku kerja siswa meliputi buku
11. Kartu gambar, huruf, dan kosakata Serangkaian gambar, huruf, dan kosakata
d. Prototipe Model Media Pembelajaran Kosakata Berbasis Audio Visual Sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Berbahasa Indonesia Anak Usia Dini
Berdasarkan hasil pengkajian teori pembelajaran bahasa, teori pembelajaran dan pemerolehan kosakata, teori perkembangan anak, model-model permainan anak, teori pembuatan media pembelajaran, dan hasil survei lapangan dilakukan pengembangan prototipe model media pembelajaran kosakata berbasis audio-visual sebagai upaya peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia anak usia dini.
Ada tiga kegiatan yang dilakukan pada pengembangan prototipe model ini, yaitu pembuatan CD (baik pembuatan animasi, perekaman adegan, maupun pembuatan gambar), penyusunan buku siswa, dan penyusunan panduan guru. Hasil ketiga kegiatan tersebut terlihat sebagai berikut.
1) Pengembangan CD Audio-Visual
Pada pengembangan CD Audio-Visual diawali dengan penyusunan “script” (naskah) yang siap ditransfer dalam bentuk audio-visual. Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam penyusunan “script” prototipe model audi-visual ini adalah (a) penentuan topik didasarkan pada klasifikasi kosakata dasar yang ditemukan dalam pemakaian anak dalam kehidupan sehari-hari, (b) pemakaian kosakata dasar dikemas dalam konteks komunikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, (c) skenario pembelajaran diawali dan diakhiri dengan “Lagu Wajib” yang dapat mendorong kecintaan terhadap bahasa Indonesia, (d) sebagai apersepsi, diperdengarkan lagu, cerita, konteks, atau peristiwa yang terkait dengan topik yang akan dipelajari siswa, (e) penjelasan narator yan terkait dengan konteks atau materi pelajaran dikemas secara interaktif sehingga siswa merasa terlibat langsung dalam pembelajaran, dan (f) pertanyaan, perintah, atau tugas yang disampaikan narator mengacu pada setiap kompetensi yang ingin dicapai pada pembelajaran, dengan tetap memperhatikan konsep Pakem.
2) Penyusunan Buku Siswa
Sebagai kelengkapan pembelajaran audio-visual, buku siswa diharapkan dapat mendukung kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, buku siswa ini dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mempercepat ketercapaian kompetensi pembelajaran, dengan tetap memperhatikan perkembangan anak usia dini.
Hal-hal yang diperhatikan dalam penyusunan buku siswa adalah (a) jenis kegiatan yang terdapat dalam buku siswa disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak usia dini, (b) format buku siswa disusun dengan pendekatan belajar sambil bermain. Misalnya, dengan memasangkan gambar dan kata yang sesuai, mengisi huruf yang rumpang, meniru tulisan yang tersedia, menyambung titik tulisan atau gambar, dan (c) fokus kegiatan yang terdapat pada buku siswa disesuaikan dengan topik yang terdapat dalam CD audio-visual.
3) Penyusunan Buku Panduan Guru/Orangtua
Buku panduan guru ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan tuntunan guru/orangtua dalam pembelajaran kosakata berbasis audio-visual. Oleh karena itu, sebelum media audio-visual disajikan kepada siswa atau anak, guru atau orangtua hendaknya memahami isi pandun ini.
Hal-hal yang diperhatikan dalam penyusunan panduan guru adalah (a) buku panduan berisi penjelasan tentang kompetensi pembelajaran yang ingin dicapai siswa/anak, (b) buku panduan berisi penjelasan materi pembelajaran yang mendukung kompetensi pembelajaran, (c) buku panduan berisi penjelasan tentang evaluasi pembelajaran yang dapat mengukur ketercapa kompetensi pembelajaran, dan (d) buku panduan berisi langkah-langkah yang dilakukan guru/orangtua pada setiap satuan pembelajaran.
SIMPULAN DAN SARAN
a. Simpulan
1. Jenis kosakata dasar yang dipakai anak PAUD adalah kata-kata kekerabatan, kata ganti, kata kerja, kata keadaan, kata benda, rasa, anggota tubuh, pakaian, bagian rumah, warna, bentuk, dan waktu.
2. Kondisi pembelajaran kosakata yang diterapkan oleh guru PAUD dapat dilihat dari kinerja dan wawasan guru PAUD dalam pembelajaran kosakata. Kondisi kinerja guru PAUD dalam pembelajaran kosakata dapat diketahui dari persiapan (yang meliputi pembuatan RPP, kesiapan alat peraga pembelajaran, dan ketersediaan media pembelejaran) dan pelaksanaan pembelajaran di kelas (yang meliputi apersepsi, keterlibatan siswa, metode/teknik pembelajaran, penerapan alat/media pembelajaran, ketercapaian pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran).
3. Terkait dengan wawasan dan pendapat guru PAUD dalam pembelajaran kosakata, semua guru berpendapat bahwa pembelajaran kosakata sangat penting karena perbendaharaan kata bagi anak diperlukan untuk berkomunikasi sehari-hari dengan teman dan keluarganya serta untuk menyatakan/mengungkapkan perasaan dan gagasannya kepada orang lain. Semakin banyak anak mengenal kosakata, semakin memudahkan anak untuk berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan dan gagasannya kepada orang lain.
4. Media dan alat pembelajaran kosakata yang selama ini digunakan oleh guru PAUD berupa berbagai jenis gambar diam, komputer, boneka tangan, puzzle, benda-benda geometri, majalah, tiruan benda-benda konkret, kartu kata, kartu huruf, buku kerja siswa, kartu gambar berhuruf-kosakata. Dalam praktiknya, berbagi media tersebut dilaksanakan secara variatif.
5. Prototipe model media pembelajaran kosakata berbasis audio-visual yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa seperangkat CD yang berupa adegan yang berfokus pada pemakaian kosakata tertentu (sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai), buku siswa, dan panduan guru/orangtua.
b. Saran
1. Temuan klasisifikasi kosakata dasar yang dipakai oleh anak usia dini ini mengindikaskan bahwa materi pembelajaran kosakata dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada PAUD harus bersumber pada kata-kata seputar klasifikasi tersebut. Dengan cara demikian, selain sesuai dengan perkembangan anak, juga akan sesuai dengan kebutuhan anak.
2. Prototipe model pembelajaran kosakata berbasis audio-visual yang dihasilkan dalam penelitian ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut. Hal ini mengingat bahwa masih banyak klasisifikasi kosakata dasar yang belum dikembangkan model pembelajarannya dalam penelitian ini.
3. Sekiranya guru-guru PAUD bermaksud mengembangkan media pembelajaran kosakata berbasis audio-vsual, prototipe ini dapat dipakai sebagai bahan rujukan, setidak-tidaknya sebagai bahan perbandingan.
PUSTAKA RUJUKAN
Bredekamp, Sue. 1992. Developmentally Appropriate Practice in Early Child-hood Programs Serving Children From Birth Through Age 8. Washington: National Association for the Education of Young Children.
Brewer, Jo Ann. 1995. Introduction to Early Childhood Education : Preschool trough Primary Grades. Boston : Allyn and Bacon.
Cox, Carole. 1999. Teaching Language Arts : A Stident- and Response- Cen-tered Classroom. Boston : Allyn and Bacon.
Dawud. 1997. “Pola Asosiasi Kata dalam Pemerolehan Kalimat.” Jurnal Pen-didikan Universitas Negeri Malang, Tahun 6, omor 2, November 1997.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1993. Kurikulum TK. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Din: Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Hainstock, Elizabeth G. 2002. Montessori untuk Sekolah Dasar. Edisi Revisi. (llih Bahasa: Hermes). Jakarta: PT Pustaka Delapratasa
Krashen, Stephen D. 2002. Second Language Acquisition and Second Langu-age Learning. California : Pergamon Press
Lambert, Wallace E. 1972. Language, Psychology, and Culture. California: Stanford University Press.
Musfiroh, Tadkiroatun. 2003. Bercerita untuk Anak Usia Dini : Panduan bagi Guru Taman Kanak-kanak. Jakarta : P2TKKPT Ditjen Dikti
Muslich, Masnur. 2000. ”Kondisi Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa TK Kota Malang”. Laporan Penelitian. Publikasi terbatas.
________. 2002. ”Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa TK Kota Malang”. Laporan Penelitian. Publikasi Terbatas.
National Institute Leteracy. 2006. Vocabulary Instruction. Dwondload internet, 02 Februari 2007.
Steinberg, Danny D. et al. 2001. Psycholinguistics: Language, Mind and World. London : Longman
Sudono, Anggani. 2000. Sumber Belajar dan Alat Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta: Grasindo.
Winihasih. 1997. “Alternatif Model Pembelajaran Kosakata di Sekolah Dasar.” Jurnal Pendidikan Universitas Negeri Malang, Tahun 6, omor 2, November 1997.

Layanan Pendidikan Berbasis E-learning

Oleh:
Dr. Rusman, M.Pd. & Dr. Toto Ruhimat, M.Pd.

image Abstract: E-learning is a general term used to refer to computer-enhanced learning based that facilitates whoever, wherever, and whenever the person is to be able to learn more fun, easier and cheaper by using Internet. In other words, E-learning is the use of network technologies to create, foster, deliver, and facilitate learning, anytime and anywhere. It also means a learning facility that uses electronic devices such as LAN, WAN, or Internet to give lectures, to interact, or to guide and monitor the students. E-learning is naturally suited to distance learning and flexible learning. This learning is an asynchronous or self-directed; self-paced activity that is used in order for the students to obtain learning materials by using electronic computer devices that are designed to help the students to get learning materials needed. Asynchronous consists of learning that is stand-alone. Asynchronous e-Learning can be delivered through the web, via an Intranet, or by way of an extranet.
The Curriculum and Education Technology Department of Indonesia University of Education is now trying to design and to use this E-learning as a supplement in MKDP curriculum and learning subjects. The department has been trying to develop the research on E-learning by using research method and development. The instrument used comprises questionnaires meanwhile the data analysis used are descriptive data analysis.
Based on the result of the research, it shows that e-learning program is able to assist the lecturers of MKDP curriculum and learning subjects to improve their ability in designing and developing learning design based on electronic devices by using models and program software.

Kata Kunci: E-Learning, Internet, dan Pembelajaran Berbasis Web.

A. PENDAHULUAN
Berkembangnya Teknologi Informasi dan Komunikasi memberi dampak terhadap berbagai sendi kehidupan, termasuk terhadap dunia pendidikan memberi pengaruh yang luar biasa.. Berbagai model pembelajaran dengan memanfaatkan komputer seperti: e-learning (electronic learning) Computer Assisted Instruction (CAI), Computer Based Instruction (CBI), dan e-teaching (electronic teaching). Model pembelajaran tersebut memungkinkan dosen dan mahasiswa mencari bahan pembelajaran sendiri langsung dari situs di internet melalui komputer sebagai sumber belajar. Dengan memahami cara menggunakan komputer dosen dan mahasiswa dapat mengakses bahan pembelajaran melalui jaringan intra dan internet, dan melalui CD dapat mempelajari bahan pembelajaran secara interaktif dan menarik, tanpa harus didampingi oleh seorang dosen secara langsung.
Perkembangan teknologi internet memberikan nuansa sistem belajar jarak jauh yang lebih terbuka lagi. Sistem pembelajaran berbasis web yang populer dengan sebutan electronic learning (e-learning), web-based training (WBT) atau kadang disebut web-based education (WBE), kampus maya (Virtual Campus), m-learning (mobile learning), dan lain-lain. Keunggulan belajar jarak jauh yang ditawarkan oleh teknologi ini adalah akses ke sumber belajar semakin terbuka dan luas, cepat dan tidak terbatas pada ruang dan waktu. Kegiatan pembelajaran dapat dengan mudah dilakukan oleh dosen dan mahasiswa, kapan saja dan di mana saja dengan rasa nyaman dan menyenangkan. Batasan ruang, waktu dan jarak tidak lagi menjadi masalah rumit untuk dipecahkan. Melalui teknologi e-learning dosen dan mahasiswa bisa melakukan konferensi, diskusi, konsultasi secara elektronik (electronic conference) tanpa harus bertemu disuatu tempat.
Ada beberapa keunggulan pengembangan program pembelajaran melalui e-learning, yaitu :
1. Sangat dinamis, program pembelajaran e-learning dapat disajikan dalam berbagai format sajian yang menarik, atraktif dan interaktif.
2. Dioperasikan sepanjang waktu sehingga dosen dan mahasiswa dapat memperoleh informasi materi/bahan pembelajaran yang diperlukan disaat memerlukannya.
3. Belajar secara individual, setiap mahasiswa dapat memilih format atau model pembelajaran yang diinginkan dan yang lebih relevan dengan latar belakangnya setiap saat.
4. Bersifat komprehensip, menyediakan berbagai bentuk kegiatan pembelajaran dari berbagai sumber yang memungkinkan mahasiswa untuk memilih suatu format atau metode belajar dan latihan yang disediakan.
Dengan beberapa keunggulan di atas, pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning untuk MKDP Kurikulum dan Pembelajaran di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) diharapkan akan dapat meningkatkan akses pemerataan dan meningkatkan mutu kinerja pembelajaran yang pada akhirnya dapat mempercepat masa studi mahasiswa dan dapat meningkatkan mutu lulusannya.
Di samping itu, ilmu dan teknologi berkembang sangat pesat, hal ini membawa implikasi terhadap penambahan bahan ajar yang harus disampaikan dosen kepada mahasiswa. Semantara itu waktu yang tersedia bagi dosen dan mahasiswa untuk bertatap muka di ruang kelas sangat terbatas. Hal ini mendorong perlu dikembangkan sistem pembelajaran yang dapat melayani mahasiswa dalam jumlah banyak, waktu yang diperlukan relatif sedikit, proses pembelajaran yang fleksibel, namun bahan ajar dapat diserap cukup efektif.
Mencermati perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya teknologi sistem pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang memanfaatkan teknologi internet dengan pembelajaran berbasis e-learning-nya, dapat membantu memperpanjang waktu belajar mahasiswa meskipun tanpa harus didampingi oleh dosen secara fisik. Teknologi internet dapat menjadi terobosan yang efektif untuk mengatasi masalah hubungan antara dosen dan mahasiswa dalam mengolah informasi bahan perkuliahan. Program sajian bahan perkuliahan yang menarik, interaktif dan konstruktif dapat mendorong motivasi belajar yang kuat pada mahasiswa, sehingga mereka dapat memmahasiswainya kapan dan dimana saja.
Salah satu kebijakan dan program yang ditetapkan dalan rencana stategis (Renstra) Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2005-2010 adalah mengembangkan sistem belajar jarak jauh dengan memanfaatakan jaringan ICT yang infrastrukturnya telah dibangun di lingkungan kampus. UPI mentargetkan sebanyak 10 program studi yang memanfatkan jaringan ICT untuk menyelenggarakan perkuliahan dengan sistem e-learning.
Jaringan internet yang sudah dibangun di lingkungan kampus UPI baru merupakan infra struktur untuk pembelajaran berbasis e-learning, dan itu tidak akan berarti apa-apa tanpa disiapkan sumberdaya manusianya, baik sebagai pengembang bahan ajarnya, sebagai penyelenggara, maupun tenaga untuk riset dan pengembangannya.
Pembelajaran melalui e-learning menuntut dosen dan mahasiswa memiliki potensi Attitude, Creativity, Knowledge, dan Skill (ACKS). Agar dapat memanfaatkan teknologi internet dalam pembelajaran, dosen dan mahasiswa dituntut untuk memiliki sikap positif terhadap teknologi tersebut, memiliki kreativitas yang tinggi, memiliki pengetahuan yang memadai tentang teknologi informasi, dan memiliki keterampilan dalam menggunakan komputer dan alat teknologi informasi lainnya. Sekaitan dengan hal ini maka untuk menunjang pelaksanaan program pembelajaran berbasis e-learning ini perlu disiapkan sumber daya manusianya melalui program pelatihan e-learning.
Untuk menjamin kelancaran dan kesinambungan pelaksanaan program pembelajaran berbasis e-learning ini perlu dibangun sistem pelayanan operasional yang baik, sistem evaluasi dan monitoring serta riset dan pengembangan program yang kotinu. Untuk itu, perlu dibentuk suatu tim pengembang yang solid dan terkoordinasi yang terdiri dari pakar teknologi internet, pakar teknologi pendidikan dan pakar ICT.

B. KAJIAN TEORITIS
1. Pembelajaran Berbasis WEB
Pembelajaran berbasis web yang populer dengan sebutan web-based training (WBT) atau kadang disebut web-based education (WBE) dapat didefinisikan sebagai aplikasi teknoloogi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa semua pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi internet dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya maka kegiatan itu dapat disebut sebagai pembelajaran berbasis web.
Kemudian yang ditawarkan oleh teknologi ini adalah kecepatan dan tidak terbatasnya pada tempat dan waktu untuk mrngakses informasi. Kegiatan belajar dapat dengan mudah dilakukan oleh mahasiswa kapan saja dan di mana saja dirasakan aman oleh mahasiswa tersebut. Batas ruang, jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah yang rumit untuk dipecahkan.
Bagaimana cara belajar melalui web? Ada persyartan utama yang perlu dipenuh yaitu adanya akses dengan sumber informasi melalui interet. Selanjutnya adanya informasi tentang di mana letak sumber informasi yang ingin kita dapatkan berada. Ada beberapa sumber data yang dapat diakses dengan bebas dan gratis, tanpa proses adninistrasi pengaksesan yang rumit. Ada beberapa sumber informasi yang hanya dapat diakses oleh pihak yang memang telah diberi otorisasi pemilik sumber informasi.
Teknologi internet memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk mendapatkan informasi apa saja dari mana saja dan kapan saja dengan mudah dan cepat. Informasi yang tersedia diberbagai pusat data diberbagai komputer di dunia. Selama komputer-komputer tersebut saling terhubung dalam jaringan internet, dapat kita akses dari mana saja. Ini merupakan salah satu keuntungan belajar melalui internet.
Mewujudkan pembelajaran berbasis web bukan sekedar meletakan materi belajar pada web untuk kemudian diakses melalui komputer web digunakan bukan hanya sebagai media alternatif pengganti kertas untuk menyimpan berbagai dokumentasi atau informasi. Web digunakan untuk mendapatkan sisi unggul yang tadi telah diungkap. Keunggulan yang tidak dimiliki media kertas ataupun media lain.
Pada sub-bab judul sengaja dikatakan pembelajaran berbasis web itu unik tapi serius. Kata serius dipakai untuk mengungkapkan bahwa merancang sampai dengan mengimplementsikan pembelajaran berbasis web tidak semudah yang dibayangkan. Selain infrastruktur internet, pembelajaran berbasis web memerlukan sebuah model instruksional yang memang dirancang khusus untuk keperluan itu. Sebuah model instruksional merupakan komponen vital yang menentukan keefektifan proses belajar. Apapun model instruksional yang dirancang, interaktivitas antara mahasiswa, dosen, pihak pendukung dan materi belajar harus mendapatkan perhatian khusuus. Ini bukan merupakan pekerjaan yang mudah.
Banyak pihak mencoba menggunakan teknologi web untuk pembelajaran dengan meletakan materi belajar secara online, lalu menugaskan mahasiswa untuk mendaptkan (downloading) materi belajar itu sebagai tugas baca. Setelah itu mereka diminta untuk mengumpulkan laporan, tugas dan lain sebagainya kembali ke dosen juga melalui internet. Jika ini dilakukan tentunya tidaklah menimbulkan proses belajar yang optimal.
Kita dapat membayangkan suasana di ruang kelas ketika sebuah “proses pembelajaran” sedang berlangsung. Berapa banyak diantara mahasiswa aktif terlibat dalam diskusi dan sesi tanya-jawab? Apa yang mereka dilakukan di kelas? Dan tentunya masih banyak lagi pertanyaan-peranyaan lain yang sebenarnya kita sudah mengetahui jawabannya. Monitoring proses dalam pembelajaran berbasis web lebih sulit daripada di ruang kelas. Menyediakan bahan belajar online tidak cukup. Diperlukan sebuah desain instruksional sebagai model belajar yang mengundang sejumlah (sama banyaknya dengan kegiatan di ruang kelas) mahasiswa unuk terlibat dalam berbagai kegiatan belajar.
Satu hal yang perlu diingat adalah bagaimana teknologi web ini dapat membantu proses belajar. Untuk kepentingan ini materi belajar perlu dikemas berbeda dengan penyampaian yang berbeda pula.
Sejarah teknologi informasi tidak dapat dilepaskan dari bidang pendidikan. Di Amerika, TI mulai tumbuh dari lingkungan akademis (NSFNET), (Nerds 2.0.1). Demikian halnya di Indonesia, TI mulai tumbuh di lingkungan akademis, seperti di, ITB, UPI, UI dan Perguruan Tinggi lainnya.
Adanya TI atau Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. Adanya Jaringan TI atau Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat. Aplikasi telnet (seperti pada aplikasi hytelnet) atau melalui web browser (Netscape dan Internet Explorer). Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam penelitian pendidikan, tugas akhir. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet banyak tugas akhir, thesis, dan disertasi yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.
Kerjasama antar ahli dan juga dengan mahasiswa yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh untuk menemui seorang pakar untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan email. Makalah dan penelitian dapat dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun dengan menggunakan mekanisme file sharring. Bayangkan apabila seorang mahasiswa di Sumatera dapat berdiskusi masalah kedokteran dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Irian. Mahasiswa di manapun di Indonesia dapat mengakses para ahli atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.
Sharring information juga sangat dibutuhkan dalam bidang penelitian agar penelitian tidak berulang (reinvent the wheel). Hasil-hasil penelitian di perdosenan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.
Distance learning dan virtual campus merupakan sebuah aplikasi baru bagi Internet. Bahkan tak kurang pakar ekonomi Peter Drucker mengatakan bahwa “Triggered by the Internet, continuing adult education may wll become our greatest growth industry”. Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 50 orang. Virtual university dapat diakses oleh siapa saja, darimana saja.
Dalam kegiatan pembelajaran berbasis web/e-learning dengan munculnya berbagai software pendukung yang dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan layanan pembelajaran, sekarang ini para dosen dapat merancang/mendasain sistem perkuliahan dengan berbasis pada e-learning, yaitu dengan menggunakan salah satu bahasa pemrograman baik itu HTML, Pront Page, MySQL dan lainnya. Hal ini dapat memberikan variasi dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Seorang dosen tidak harus selalu menjejali mahasiswa dengan informasi yang membosankan. Dengan menggunkan Teknologi e-learning, seorang dosen dapat memanfaatkan komputer dan internet sebagai suplemen, major resources ataupun total teaching, di mana dosen hanya sebagai fasilitator dan mahasiswa dapat belajar dengan berbasis indiviudal learning baik dengan menggunakan model web Course, Web Centric Course maupun menggunkan model Web Enhanced Course.
Dalam penerapan layanan pembelajaran berbasis e-learning seorang dosen dapat menggunakan model penerapan pembelajaran berbasis e-learning baik itu berupa selective model (bila jumlah komputer hanya 1 unit), sequential model (bila jumlah komputer hanya 2 atau 3 unit), Static Station Model (jumlah komputer terbatas dan melibatkan penggunaan sumber belajar lain), dan laboratory model (model ini digunakan jika tersedia sejumlah komputer di lab yang dilengkapi dengan jaringan internet)
1. e-Learning
Menurut Jaya Kumar C. Koran (2002), e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Adapula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Sedangkan Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Atau e-learning didefinisikan sebagai berikut: e-Learning is a generic term for all technologically supported learning using an array of teaching and learning tools as phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite transmissions, and the more recognized web-based training or computer aided instruction also commonly referred to as online courses (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).
Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet. Internet, Intranet, satelit, tape recorder/audio/video, TV interaktif dan CD-ROM adalah sebahagian dari media elektronik yang digunakan. Pembelajaran boleh disampaikan secara ‘synchronously’ (pada waktu yang sama) ataupun ‘asynchronously’ (pada waktu yang berbeda). Materi pembelajaran yang disampaikan melalui media ini meliputi teks, grafik, animasi, simulasi, audio dan video. Ia juga harus menyediakan kemudahan untuk discussion group dengan bantuan profesional dalam bidangnya.
Perbedaan pembelajaran tradisional dengan e-learning yaitu kelas ‘tradisional’, dosen dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada mahasiswanya. Sedangkan di dalam pembelajaran berbasis e-learning fokus utamanya adalah mahasiswa. Mahasiswa belajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran berbasis e-learning akan ‘memaksa’ mahasiswa memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya. Mahasiswa membuat rencana dan mencari bahan belajari dengan usaha, dan inisiatif sendiri.
Khoe Yao Tung (2000) mengatakan bahwa setelah kehadiran dosen dalam arti sebenarnya, internet akan menjadi suplemen dan komplemen dalam menjadikan wakil dosen yang mewakili sumber belajar yang penting di dunia.
Cisco (2001) menjelaskan filosofis e-learning sebagai berikut. Pertama, e-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara on-line. Kedua, e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer), sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi. Ketiga, e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. Keempat, Kapasitas mahasiswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar conten dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas mahasiswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik. Sedangkan Karakteristik e-learning, antara lain. Pertama, Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana dosen dan mahasiswa, mahasiswa dan sesama mahasiswa atau dosen dan sesama dosen dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler. Kedua, Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks). Ketga, Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh dosen dan mahasiswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya. Keempat, Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer. Untuk dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Onno W. Purbo (2002) mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam merancang elearning, yaitu: sederhana, personal, dan cepat. Sistem yang sederhana akan memudahkan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada, dengan kemudahan pada panel yang disediakan, akan mengurangi pengenalan sistem e-learning itu sendiri, sehingga waktu belajar peserta dapat diefisienkan untuk proses belajar itu sendiri dan bukan pada belajar menggunakan sistem e-learning-nya. Syarat personal berarti pengajar dapat berinteraksi dengan baik seperti layaknya seorang dosen yang berkomunikasi dengan murid di depan kelas. Dengan pendekatan dan interaksi yang lebih personal, mahasiswa diperhatikan kemajuannya, serta dibantu segala persoalan yang dihadapinya. Hal ini akan membuat mahasiswa betah berlama-lama di depan layar komputernya. Kemudian layanan ini ditunjang dengan kecepatan, respon yang cepat terhadap keluhan dan kebutuhan mahasiswa lainnya. Dengan demikian perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin oleh pengajar atau pengelola.
A. Teknologi Pendukung E-Learning
Dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Karena itu dikenal istilah: computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer; dan computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer.
Teknologi pembelajaran terus berkembang. Namun pada prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Technology based learning dan Technology based web-learning. Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio tape, voice mail telephone) dan Video Information Technologies (video tape, video text, video messaging).
Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies (bulletin board, Internet, e-mail, tele-collaboration).
Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah
kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering di pakai pada pendidikan jarak jauh (distance education), dimasudkan agar komunikasi antara murid dan dosen bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini.
Di antara banyak fasilitas internet, menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu email, Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”.
Sedangkan Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning. Pertama, e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Kedua, e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. Ketiga, e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradikma tradisional dalam pelatihan.
Ada beberapa alternatif paradigma pendidikan melalui internet ini yang salah satunya adalah system “dot.com educational system” (Kardiawarman, 2000). Paradigma ini dapat mengitegrasikan beberapa system seperti, Pertama, paradigma virtual teacher resources, yang dapat mengatasi terbatasnya jumlah dosen yang berkualitas, sehingga mahasiswa tidak haus secara intensif memerlukan dukungan dosen, karena peranan dosen maya (virtual teacher) dan sebagian besar diambil alih oleh system belajar tersebut. Kedua, virtual school system, yang dapat membuka peluang menyelenggarakan pendidikan dasar, menengah dan tinggi yang tidak memerlukan ruang dan waktu. Keunggulan paradigma ini daya tampung mahasiswa tak terbatas. Mahasiswa dapat melakukan kegiatan belajar kapan saja, dimana saja, dan darimana saja. Ketiga, paradigma cyber educational resources system, atau dot com leraning resources system. Merupakan pedukung kedua paradigma di atas, dalam membantu akses terhadap artikel atau jurnal elektronik yang tersedia secara bebas dan gratis dalam internet.
Penggunaan e-learning tidak bisa dilepaskan dengan peran Internet. Menurut Williams (1999). Internet adalah ‘a large collection of computers in networks that are tied together so that many users can share their vast resources’.

B. Pengembangan Model e-Learning
Pendapat Haughey (1998) tentang pengembangan e-learning. Menurutnya ada
tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course.
Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana mahasiswa dan dosen sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
Web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini dosen bisa memberikan petunjuk pada mahasiswa untuk memmahasiswai materi perkuliahan melalui web yang telah dibuatnya. Mahasiswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, mahasiswa dan dosen lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dimahasiswai melalui internet tersebut.
Web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara mahasiswa dengan dosen, sesama mahasiswa, anggota kelompok, atau mahasiswa dengan nara sumber lain. Oleh karena itu peran dosen dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan perkuliahan, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.

C. HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang program layanan pembelajaran berbasis e-learning untuk Pemerataan akses dan Peningkatan Mutu Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning dapat dilakukan melalui beberapa model yaitu model Web Course, Web Centric Course maupun menggunkan model Web Enhanced Course. Dalam penerapan layanan pembelajaran berbasis e-learning seorang dosen dapat menggunakan model penerapan pembelajaran berbasis e-learning baik itu berbentuk selective model (bila jumlah komputer hanya 1 unit), sequential model (bila jumlah komputer hanya 2 atau 3 unit), Static Station Model (jumlah komputer terbatas dan melibatkan penggunaan sumber belajar lain), dan laboratory model (jika tersedia sejumlah komputer di laboratorium yang dilengkapi dengan jaringan internet)
Secara lebih rinci hasil penelitian adalah sebagai berikut:
Sekaitan dengan sajian isi dan penggunaan program e-learning yang dikembangkan, para dosen berpandangan sebagai berikut:
1. Software yang dikembangkan sebaiknya menyajikan informasi/paparan tentang :
a. Tujuan/Kompetensi yang ingin dicapai (89.3%);
b. Paparan materi secara rinci (85.7%);
c. Tugas dan latihan-latihan yang harus dilakukan (78.6%);
d. Soal-soal tes yang harus dikerjakan (57.1%);
e. Umpan balik dari tugas/latihan dan tes (75%);
f. Sumber bacaan sebagai pelengkap (71.4%);
g. Program, website atau situs yang bisa di-link (82.1%).
2. Paparan disajikan dalam bahasa yang lugas/populer (75%)
3. Bahasa yang digunakan dalam paparan e-learning sebaiknya singkat dan jelas (92.9%).
4. Sajian program dipilah-pilah berdasarkan tujuan/kompetensi yang diharapkan (89.3%).
5. Paparan Materi, tugas/latihan dan tes dipilah-pilah sesuai dengan tujuan/kompetensi yang diharapkan (89.3%).
6. Paparan materi disajikan dan diikuti oleh kegiatan praktek, tugas/latihan dan tes (71.4%).
7. Sajian materi disekaliguskan, demikian pula dengan tugas/ latihan dan tes (60.7%).
8. Untuk paparan materi, huruf yang digunakan sederhana/jelas daripada huruf yang bernuans seni/ribet (60.7%).
9. Warna yang digunakan dalam sajian program cenderung lebih disukai warna yang kalem/ cold daripada yang ngejreng/spotlight (42.9%).
10. E-learning yang dikembangkan perlu dilengkapi dengan unsur-unsur yang gambar/picture yang menarik dan membangkitkan motivasi (60.7%).
11. Untuk Judul/headline,huruf yang digunakan sederhana/jelas daripada huruf yang bernuansa seni/ribet (60.7%).
12. Petunjuk/ tanda-tanda/ icon harus jelas dan berlaku umum (89.3%).
13. Penggunaan gambar/ilsutrasi harus seimbang, tidak lebih banyak dibanding tulisan (50%).
14. E-learning harus dapat menyajikan informasi tentang ketercapaian tujuan/ komptensi yang diraih diperoleh pengguna (92.9%).
15. Diperlukan umpan balik bagi pengguna tentang apa yang telah dilakukan/dikerjakannya (71.4%).
16. e-learning sebaiknya dikembangkan dengan model yang mudah dipahami (42.9%).

Hasil ujicoba terbatas yang dilakukan terhadap dosen MKDP Kurikulum dan Pembelajaran dalam memberikan penilaian terhadap program e-learning diperoleh hasil bahwa terdapat beberapa aspek yang dapat dikategorikan baik, sedangkan aspek lainnya pada kategori cukup. Aspek yang dikategorikan sudah baik, yaitu: perumusan tujuan, tugas-latihan, soal/tes, penggunaan bahasa, penggunaan huruf, strategi yang dikembangkan, dan kesinambungan antar komponen pembelajaran. Sedangkan aspek yang dikategorikan cukup adalah aspek paparan materi, soal-latihan-tes, umpan balik, warna, musik, suara, icon, dan keterpahaman mahasiswa terhadap materi yang disajikan dalam e-learning.
Setelah dilakukan revisi terhadap program e-learning tersebut, hasil ujicoba lapangan/validasi yang dilakukan di Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI dengan jumlah peserta 20 orang. dapat dijelaskan pada tabel 1.2 Setelah dilakukan beberapa perbaikan sebagaimana penilaian pada ujicoba terbatas, terlihat ada beberapa penilaian yang meningkat. Aspek-aspek yang tadinya dianggap pada kategori kurang dan cukup meningkat menjadi kategori baik. Beberapa aspek yang meningkat menjadi kategori baik sudah mencapai 12 aspek dari 18 aspek yang menjadi bahan penilaian, artinya 66.67% dari seluruh aspek yang dinilai dikategorikan baik dan 33.33% dikategorikan cukup. Beberapa aspek yang masih perlu dilakukan perbaikan antara lain dalam penggunaan warna, musik, suara, ilustrasi, effect, dan icon/ petunjuk.

Tabel 1
Penilaian Dosen MKDP Kurikulum dan Pembelajaran
terhadap Program E-Learning pada Ujicoba Lapangan/Validasi

NO. ASPEK YANG DINILAI JAWABAN RESPONDEN (dalam %)
KURANG CUKUP BAIK
1. Komponen-komponen pembelajaran yang disajikan dalam web e_learning mata kuliah Kurikulum dan Pembelajaran.
a. Tujuan/ Kompetensi 0 10 90
b. Paparan materi 5 40 55
c. Tugas dan latihan-latihan 5 35 60
d. Soal latihan/ tes 0 25 75
e. Umpan balik dari tugas/ latihan dan tes. 0 40 60
f. Sumber bacaan pelengkap. 20 30 50
g. Keinteraktifan. 20 30 50
2. Penggunaan atau pemakaian unsur-unsur grafis dan pendukung dalam tampilan web e-learning
a. Bahasa 0 10 90
b. Warna. 5 55 40
c. Musik. 15 85 0
d. Huruf 0 35 65
e. Gambar/ ilustrasi 20 50 30
f. Suara 15 80 5
g. Effect 10 60 30
h. Icon/ petunjuk 30 60 10
3. Strategi yang digunakan dalam penyajian masing-masing komponen dalam e-learning yang dikembangkan. 5 45 55
4. Kesinambungan antara unsur-unsur pembelajaran yang ada dalam program e-learning, seperti: tujuan, materi, strategi, dan evaluasi. 0 40 60
5. Pemanfaatan dan penggunaan web e_learning yang telah dikembangkan dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa mencapai tujuan perkuliahan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 0 40 60

D. PEMBAHASAN
Secara umum pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning yang telah dikembangkan melalui beberapa tahapan dan ujicoba dinilai oleh dosen sebagai suatu program e-learning yang dapat digunakan untuk memfasilitasi mereka dalam pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning untuk MKDP Kurikulum dan Pembelajaran.
Sebagaimana kajian pustaka yang telah dikemukakan bahwa terdapat berbagai model yang dapat dikembangkan dalam pembuatan dan pemanfaatan layanan pembelajaran berbasis e-learning, yaitu:
Pertama, pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning melalui Web Course yaitu penggunaan e-learning untuk keperluan pendidikan, yang mana mahasiswa dan dosen sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui e-learning (internet). Dengan kata lain model ini menggunakan sistem belajar jarak jauh (SBJJ).
Kedua, Pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning melalui Web Centric Course yaitu penggunaan e-learning yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian bahan perkuliahan disampikan melalui e-learning, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini dosen bisa memberikan petunjuk pada mahasiswa untuk mempelajari materi perkuliahan melalui web/situs di internet yang telah dibuatnya. Mahasiswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, mahasiswa dan dosen lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui e-learning tersebut.
Ketiga, Pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning melalui Web Enhanced Course yaitu pemanfaatan e-learning untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi e-learning adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara mahasiswa dengan dosen, sesama mahasiswa, anggota kelompok belajar, atau mahasiswa dengan nara sumber lain. Oleh karena itu peran dosen dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi di internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan perkuliahan, menyajikan materi melalui web (e-learning) yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui e-learning, dan kecakapan lain yang diperlukan.
Model-model Pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning tersebut dapat dipilih sesuai dengan karakteristik dari kompetensi/tujuan pembelajaran yang diharapkan dan sifat dari materi perkuliahan yang akan disajikan melalui e-learning.
Para dosen menilai komponen-komponen sajian program e-learning sesuai dengan komponen-komponen yang seharusnya dikembangkan dalam suatu program pembelajaran berbasis e-learning, yakni berisi tujuan, pemaparan materi yang disajikan, tugas dan latihan, soal/tes, dan sumber rujukan. Para dosen masih menilai cukup (pada ujicoba terbatas) dan baik (pada ujicoba lapangan) tentang sumber bacaan/rujukan pelengkap. Hal ini menunjukkan bahwa suatu program e-learning memang sebaiknya dikembangkan dan menyajikan berbagai materi penunjang dan pengalaman belajar lainnya sebagai penunjang dan pengayaan. Dengan demikian mahasiswa akan banyak mempelajari berbagai hal yang dapat menunjang ketercapaian tujuan/ kompetensi yang diharapkan. Penilaian para dosen yang seperti ini juga menunjukkan bahwa mereka ingin memberikan pengalaman belajaran yang terbaik dan lengkap di samping materi inti yang telah diajarkan.
Dari data pendukung yang diperoleh (dapat dilihat pada lampiran), bahwa rata-rata waktu yang diperlukan oleh mahasiswa untuk mempelajari program e-learning ini adalah 2 jam 30 menit. Hal ini berarti bahwa dengan menggunakan e-learning ini dapat membantu mempercepat proses penyerapan informasi/materi perkuliahan dibanding dengan proses peerkuliahan yang hanya tatap muka saja. Dengan e-learning ini, dosen akan terbantu dalam meningkatkan kemampuannya, baik dalam merancang bahan ajar yang dikembangkan maupun pengembangan desain pembelajaran e-learning dengan menggunakan front page dan program software MySQL dengan menggunakan bahasa dasar SQL untuk pengembangan sistem database engine yang telah berkembang sejak pertengahan tahun 1996 sampai sekarang. Di samping itu dengan menerapkan layanan pembelajaran berbasis e-learning pada mata kuliah MKDP Kurikulum dan Pembelajaran dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas sarana dan prasarana pendukung yang digunakan dalam pembelajaran berbasis e-learning di Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus menyiapkan SDM yang profesional dalam mengembangkan, mendesain, dan melakukan penelitian dalam pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning di Universitas Pendidikan Indonesia.

E. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan yang dapat dirumuskan dari hasil penelitian dan pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning ini adalah:
1. Pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning yang digunakan dalam mata kuliah MKDP Kurikulum dan Pembelajaran dapat menggunakan model Web Course, Web Centric Course, atau model Web Enhanced Course. Pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning tersebut dapat dipilih oleh dosen sesuai dengan karakteristik dari kompetensi/tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan sifat/karakteristik dari materi perkuliahan yang akan disajikan melalui program e-learning.
2. Untuk dapat meningkatkan kemampuan dosen dalam mengembangkan desain bahan ajar yang akan dikembangkan terlebih dahulu harus jelas apa tujuan atau kompetensi yang akan dicapai dalam pengembangan pembelajaran berbasis e-learning, karena tujuan adalah titik tolak pijakan untuk mengembangkan rancangan bahan ajar yang akan disajikan dalam format e-learning. Hal ini akan memudahkan dosen untuk dapat mensetting dan mendesain bahan perkuliahan yang akan di-publish atau dimasukan ke dalam situs/program e-learning tersebut. Di samping itu program layanan pembelajaran berbasis e-learning yang dapat meningkatkan kemampuan dosen dalam mengembangkan desain bahan ajar meliputi komponen-komponen sebagai ini:
a. Tujuan / Kompetensi.
b. Paparan materi.
c. Tugas dan latihan.
d. Soal-soal tes.
e. Umpan balik dari tugas/latihan dan tes.
f. Sumber bacaan/ rujukan.
3. Untuk dapat meningkatkan kemampuan dosen dalam mengembangkan desain bahan ajar yang akan dikembangkan terlebih dahulu harus jelas bahasa pemrograman apa yang akan digunakan dalam pengembangan pembelajaran berbasis e-learning apakah front page, moodle, SAS, MySQL, atau software yang lainnya. Hal ini akan memudahkan dosen untuk dapat mensetting dan mendesain bahan perkuliahan yang akan di-publish atau dimasukan ke dalam situs/program e-learning. Program layanan pembelajaran berbasis e-learning yang dapat meningkatkan kemampuan dosen dalam mengembangkan disain pembelajaran yaitu dengan menggunakan berbagai software pemrograman yang tidak terlalu komplek dan harus memenuhi format dan beberapa kriteria sebagai berikut:
a. Format sajian dipilah-pilah untuk setiap tujuan/kompetensi, begitu pula sajian materi, latihan, dan tes serta balikannya.
b. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana, populer, dan tidak verbalistis.
c. Menggunakan warna yang cold, huruf yang jelas/ sederhana, dan icon-icon yang baku serta menggunakan ilustrasi yang seimbang.
d. Menyajikan picture sebagai variasi dalam program yang digunakan
e. Program e-learning dirancang untuk dapat disajikan dalam website atau situs yang bisa di-link dengan program yang lain dan menyajikan berbagai pilihan seperti file dokumen, powerpoint dan sebagainya.
4. Untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas sarana dan peralatan yang digunakan untuk pengembangan bahan ajar berbasis e-learning yaitu harus tersedianya komponen pendukung terhadap pelaksanaan pembelajaran berbasis e-learning, yaitu adanya lab. komputer yang telah terpasang jaringan, sehingga akan memudahkan penerapan program layanan pembelajaran berbasis e-learning, peningkatan kualitas dan kuantitas laboratorium komputer yang ada di Direktorat TIK (dulu UPINET) terutama penambahan daya tampung dan penambahan unit komputer, sehingga mahasiswa secara leluasa mengakses internet untuk kegiatan pembelajaran berbasis e-learning.
5. Penyiapkan sumberdaya untuk riset dan pengembangan pembelajaran berbasis e-learning yaitu memerlukan SDM yang mampu melakukan:
a. Rekayasa dan pemodelan sistem/informasi (system/information engineering and modeling). Karena software adalah bagian dari sistem yang lebih besar, pekerjaan dimulai dari pembentukan kebutuhan-kebutuhan dari semua elemen sistem dan mengalokasikan suatu subset ke dalam pembentukan software. Hal ini penting, ketika software harus berkomunikasi dengan hardware, manusia, dan basis data. Rekayasa dan pemodelan sistem layanan menekankan pada pengumpulan kebutuhan pada level sistem dengan perancangan dan analisis.
b. Analisis kebutuhan software (software requirements analysis). Proses pengumpulan kebutuhan diintensifkan ke software, harus dapat dibentuk konten/informasi, fungsi yang dibutuhkan dan performance. Hasilnya harus didokumentasikan dan diriview.
c. Desain (design). Proses desain mengubah kebutuhan-kebutuhan menjadi bentuk karakteristik yang dimengerti software sebelum dimulai penulisan program.
d. Penulisan program (coding). Desain harus diubah menjadi bentuk yang dimengerti oleh komputer. Maka dilakukan penulisan program.
e. Testing. Setelah kode program selesai dibuat, program dapat berjalan.

DAFTAR PUSTAKA
Anthony B. Perkins, dan Michael C. Perkins, (1999) “The Internet Bubble: Inside the overvalued world of high-tech stocks – and what you need to know to avoid the coming shakeout”, HarperBusiness.

Antonius Aditya Hartanto dan Onno W. Purbo, (2002).E-Learning berbasis PHP dan MySQL, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta,

Bailey, D.H. (1996), Constructivism and Multimedia: Theory and Application: Inovation and Transformation. Journal of Instruction Media.
Barker, P. (1990), Designing Interactive Learning System, Education and Training Technolgy International.
Budi Rahardjo, (2003) Proses e-Learning di Perguruan Tinggi, Seminar & Workshop, ITB.

___________, Internet Untuk Pendidikan, http://budi.insan.com, 2001.

Criswell, E.L. (1989). The Design of Computer-Based Instruction. New York: Mac Millan.
Clements, D.H. (1994). The Uniquenees of the Computer as E-Learning Tool: Insight from Research and Practice. In. J.L. Wright. & D. Shade. 1994. Young children: Active Learners in a Technologi Age. Washinton, D.C.: National Association for the Education of Young Children.
Cisco (2001). E-learning: Combines Communication, Education, Information, and Training. Avaliabe at [Online] htt://www.cisco.com/warp/public/10/ wwtraining/e-learning.
Dale, E., (1969) .Audiovisual Methods in Teaching. New York : Dryden Press.
Don Scott, Catherine Cramton, Stephane Gauvin, et al. “Internet Based Collaborative Learning: an Emprical Evaluation.” http://ausweb.scu.edu.au/proceedings/ donscott/index.html.
Dong, F.H. (2001). Can You Succeed as a Commodity : How do Ecommerce and E-learning Relate ? Available at [Online] http://www.elearningmag.com.
Ellis, Alan, Wagner and Longmire, (1999) Managing Web-Based Training, ASTD. USA.
Eric S. Raymond, (1999) “The Cathedral and the Bazaar: Musings on Linux and Open Source by an Accidental Revolutionary”, O’Reilly & Associates, Inc.

Jolliffe A. et all., 2001, The Online Learning Handbook. Kogan Page Publisher. London. N19JN.
James W. Michaels and Dirk Smillie, (2000), “Webucation: Some smart investors are betting big bucks that Peter Drucker is right about the brilliant future of online adult education,” Forbes,
Lee. Kar Tin, 2001, Information Technology in Teacher Education. Published in the Asia Fasific.
Office of Education Technologi (2001). E-learning: Putting a World-Class Education at the Fingertips of All Children. Availabe at [Online] http://www.ed.gov /tecnology/elearning.
Rusman, (2000), Eksistensi Komputer dan Internet dalam Dunia Pendidikan, Jurnal Pendidikan FIP.
_________ (2004), Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pendidikan. Jurnal Edutech. Vol 3, No 1 Februari 2004. ISSN. 0852-1190
_________. (2007), Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Komputer untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa di SMK, Jurnal Teknodik-Pustekom Jakarta..
_________, (2009) Manajemen Kurikulum:Seri Manajemen Sekolah Bermutu. Jakarta. Rajawali Pers. PT. RajaGrafindo Persada.
Somekh, Bridget and Niki Davis, 1997, Using Information Technology Effectively in Teaching and Learning, London Routledge.
Stephen Segaller, 1998, “Nerds 2.0.1: A brief history of the Internet”, TV Books, L.L.C.

Popularity: 7% [?]

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More